Archive for Uncategorized

Komitmen!!!

Post ke-2 dari hari ini, fiuh…. Kemarin gw sempet ngobrol2 ma nyokap gw, kenapa gw susah menjaga semangat dalam melakukan beberapa hal. Nyokap gw ngasi jawaban yang simpel, komitmen. Hal itu ditentuin banget ma komitmen kita, buat ngejaga semangat ‘n performance kita dalam melakukan sesuatu.

Before, gw berpikir gw orang yang cukup bertanggung jawab ‘n berkomitmen. Tapi… kemarin gw disadarkan, gw dapat dengan mudah berkomitmen ke kuliah, ato ke atasan gw. Tapi… gw susah berkomitmen ma diri gw sendiri, ma mimpi gw… So… cmon Chan, mana komitmen mu!!!

Comments (1) »

Long time no see…

Woww… dah lama banget gw ga nulis di blog ini, soalnya bingung juga mu nulis apa, hehe…

Kesepatan ini, gw mu cerita report software design arkavidia. Gw beruntung dipercaya untuk menjadi moderator presentasi final arkavidia, dan di akhir presentasi, sempet ngobrol2 sebentar dengan salah seorang juri, Pak Riza Satria Perdana, yang juga dosen di teknik informatika.

Beliau terutama menilai dari segi teknologi, apakah softwarenya menggunakan teknologi-teknologi yang baru. Sempet pesimis dengan tim ITB, Niraamaya, yang emang ga pake teknologi yang wah.

Setelah tanya2 dengan temen gw, ternyata juri lain lebih melihat ke sisi aplikatifnya. Software Niraamaya emang ga ‘waaah’, tapi sangat aplikatif, jadi tampaknya ada harapan buat tim Niraamaya ITB, hehe…

J5 tuh acara penutupan arkavidia, sekaligus pengumuman pemenang lomba software design. Hasil nyaaa…. tim Niraamaya dari ITB juara 1!!! Wooowww…. tepuk tangan meriah abis, secara mayoritas penonton anak IF ITB…

Selamat buat tim Niraamaya, semoga softwarenya bisa direalisasiin, ‘n berguna buat orang banyak!!!

Comments (1) »

Penggusuran di Ganesha

Wow… hari ini di Ganesha terjadi penggusuran PKL, dari penjual CD bajakan, mpe tukang gorengan. Petugas PP tampaknya mendapat durian runtuh, coz daerah Ganesha emang banyak banget PKL, secara dekat dengan universitas terbaik di Indonesia (nersis mode : on), ITB. Banyak perasaan berkecamuk waktu gw ngeliat kejadian ini, ada rasa kasian ma PKL, ada juga rasa marah ma petugas PP. Kebayang aja, gerobak tempat PKL menumpukan hidup nya dan keluarganya, gerobak yang mungkin modal satu2nya yang dimiliki PKL untuk mengais rezeki, digusur secara kasan dan paksa oleh petugas PP.

Menurut gw, masalah PKL adalah masalah yang kompleks. Kita ga bisa menyalahkan PKL, juga ga bisa menyalahkan petugas PP. PKL butuh uang, dan menurut gw mereka hebat, coz berkat mereka, gw bisa makan dengan harga miring di sekitar kampus, ‘n mereka mau berusaha, ga seperti oknum2 yang duduk2 di dekat perempatan sambil menyaksikan buah hatinya mencari uang di lampu merah. Petugas PP juga hanya menjalankan tugas yang sesuai dengan undang-undang, ‘n sebenarnya PKL memang cukup mengganggu pemandangan dan kenyamanan berjalan kaki di daerah Ganesha. Setelah dipikir2, masalah PKL juga menyeret pemerintah, seharusnya pemerintah memberi solusi, ga sekedar main gusur saja. Adik gw bilang, klo PKL digusur terus2an, nti modalnya abis, nti jadi gelandangan, khan akhirnya malah lebih ga produktif!!! Salah satu solusi yang terpikir tuh ngebuat tempat lokalisasi untuk PKL. Tapi ga asal lokalisasi, soalnya berdasarkan pengalaman, pemerintah ngasi lokalisasi yang jauh dari market place, PKL mana mau, nti ga ada yang beli dagangannya khan percuma. Lokalisasinya harus dekat dengan market place, ‘n harga sewanya murah (kalau mahal, nti dagangan PKL ikut naik, nti uang jajan mahasiswa kurang, hehehe…).

Siang jem1an, gw ke kampus lagi, ‘n tebak apa yang gw liat!? PKL sudah kembali ke tempatnya semula, tampaknya tidak kurang dan tidak lebih suatu apapun. Teori konspirasi yang mulai merepak dalam batin gw…tampaknya PKL memberi sejumlah materi (mungki gehu, mungkin bubur, mungkin Fallout3), sehingga petugas PP tergerak hatinya untuk mengembalikan gerobak2 tumpuan hidup PKL. Tapi kalau petugas PP nya baik hati begini, bagaimana dengan undang-undang nya Pak??!! Sekali lagi, ini cuma teori konspirasi, hehehe… Sedang ada niat untuk menginterogasi PKL, menunggu saat yang tepat (baca : waktu niat gw timbul).

Comments (5) »

Screwtape Letter

Hari ini gw ke Visi ma temen gw, Jeffrey. Awalnya tertarik ke Visi gara-gara di spanduknya dibilang diskon up-to 30%. Bener sie ada yang buku yang didiskon 30%, malah ada yang diobral mpe @Rp5.000, tapi… buku yang didiskon ga ada yang gw kenal, gw juga jadi kurang tertarik, soalnya curiga yang diobral tuh buku2 yang ga terlalu laku, hehehe…

Oh iya, gw ke Visi tujuannya nyari buku yang judulnya “Screwtape Letter”. Ini buku udah gw incar sejak satu taun lalu, menunggu ada event diskon di toko buku, hehehe… Sayang nya, buku ini ga termasuk buku yang didiskon di visi, hiks hiks… Berhubung hasrat ingin membaca sudah begitu besar, gw beli juga buku seharga 35rb ini dengan uang jajan yang masih tersisa. Kebetulan uang jajan tersisa lumayan banyak, soalnya minggu ini minggu UAS, jadi ga jalan-jalan ‘n ga jajan di kampus, hohoho… Read the rest of this entry »

Comments (4) »

Waktu yang berharga

Gw seorang pecandu game, klo gw udah maen satu gw yang gw suka, bakal susah banget buat gw berhenti maenin tuh game. Baru aja gw maen FFTA2 yang di NDS, ‘n gw suka banget ma game yang satu ini. Tadi siang, gw rencana mu maen FFTA2 mpe jam 2, akhirnya bablas mpe jam 5 sore, mu berhenti main tuh rasanya susah banget. Rencana mu jaga toko, mu belajar buat UAS, semuanya gw abaikan demi main game yang satu ini.

Terus, apa yang membuat gw berhenti main jam 5 sore? Gw berhenti waktu ngesave game, ‘n memperhatikan udah berapa lama waktu yang gw habiskan buat maen game ini.

FFTA2

FFTA2

Kalian lihat, 11 jam gw habisin buat maen game doank, yang nyata-nyata tidak menghasilkan apa-apa buat gw. Waktu yang harusnya bisa gw pake buat membangun hubungan ma keluarga gw, waktu yang harusnya bisa gw pake buat mempersiapkan UAS hari ini lebih baik lagi, semuanya terbuang buat main game. Ingin rasanya gw bisa minta 10 jam itu lagi ke Tuhan, tapi itu ga mungkin. Waktu udah berlalu, ‘n ga akan pernah kembali lagi. Baru aja gw ngedelete game nya, ‘n gw berharap bisa menebus 11 jam yang udah gw sia-siain. Hiks hiks hiks…

Leave a comment »

Menyentuh…

Woooww… ini imel yang gw dapet dari seorang teman gw di Jakarta… Isinya mengharukan banget, ilustrasi yang bagus tentang bagaimana Yesus menebus dosa-dosa kita… Check this out!

THE ROOM
Cerita di bawah ini tentang Brian Moore yang berusia 17 tahun, ditulis
olehnya sebagai tugas sekolah. Pokok bahasannya tentang sorga itu seperti
apa. “Aku membuat mer eka terperangah,” kata Brian kepada ayahnya, Bruce.
“Cerita itu bikin heboh. Tulisan itu seperti sebuah bom saja. Itulah yang
terbaik yang pernah aku tulis.” Dan itu juga merupakan tulisannya yang
terakhir.

Orangtua Brian telah melupakan esai yang ditulis Brian ini sampai seorangsaudara sepupu menemukannya ketika ia membersihkan kotak loker milik remaja
itu di SMA Teays Valley, Pickaway County, Ohio .

Brian baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, namun orangtuanya
mati-matian mencari setiap barang peninggalan Brian: surat-surat dari
teman-teman sekolah dan gurunya, dan PR-nya.. Hanya dua bulan sebelumnya,
ia telah menulis sebuah esai tentang pertemuannya dengan Tuhan Yesus di
suatu ruang arsip yang penuh kartu-kartu yang isinya memerinci setiap saat
dalam kehidupan remaja itu. Tetapi baru setelah kematian Brian, Bruce dan
Beth, mengetahui bahwa anaknya telah menerangkan pandangannya tentang
sorga.

Tulisan itu menimbulkan suatu dampak besar sehingga orang-orang ingin
membagikannya. “Anda merasa seperti ada di sana ,” kata pak Bruce Moore.
Brian meninggal pada tanggal 27 Mei, 1997, satu hari setelah Hari Pahlawan
Amerika Serikat. Ia sedang mengendarai mobilnya pulang ke rumah dari rumah
seorang teman ketika mobil itu keluar jalur Jalan Bulen Pierce di Pickaway
County dan menabrak suatu tiang. Ia keluar dari mobilnya yang ringsek tanpa
cedera namun ia menginjak kabel listrik bawah tanah dan kesetrum.

Keluarga Moore membingkai satu salinan esai yang ditulis Brian dan
menggantungkannya pada dinding di ruang keluarga mer eka . “Aku pikir Tuhan
telah memakai Brian untuk menjelaskan suatu hal. Aku kira kita harus
menemukan makna dari tulisan itu dan memetik manfaat darinya,” kata Nyonya
Beth Moore tentang esai itu.

Nyonya Moore dan suaminya ingin membagikan penglihatan anak mer eka tentang
kehidupan setelah kematian. “Aku bahagia karena Brian. Aku tahu dia telah
ada di sorga. Aku tahu aku akan bertemu lagi dengannya.”

Inilah esai Brian yang berjudul “Ruangan”.
Di antara sadar dan mimpi, aku menemukan diriku di sebuah ruangan. Tidak ada ciri yang mencolok di dalam ruangan ini kecuali dindingnya penuh dengan
kartu-kartu arsip yang kecil. Kartu-kartu arsip itu seperti yang ada di
perpustakaan yang isinya memuat judul buku menurut pengarangnya atau topik
buku menurut abjad.

Tetapi arsip-arsip ini, yang membentang dari dasar lantai ke atas sampai ke
langit-langit dan nampaknya tidak ada habis-habisnya di sekeliling dindingitu,
memiliki judul yang berbeda-beda.

Pada saat aku mend eka ti dinding arsip ini, arsip yang pertama kali
menarik perhatianku berjudul “Cewek-cewek yang Aku Suka”. Aku mulai membuka
arsip itu dan membuka kartu-kartu itu. Aku cepat-cepat menutupnya, karena
terkejut melihat semua nama-nama yang tertulis di dalam arsip itu. Dan
tanpa diberitahu siapapun, aku segera menyadari dengan pasti aku ada
dimana.

Ruangan tanpa kehidupan ini dengan kartu-kartu arsip yang kecil-kecil
merupakan sistem katalog bagi garis besar kehidupanku. Di sini tertulis
tindakan-tindakan setiap saat dalam kehidupanku, besar atau kecil, dengan
rincian yang tidak dapat dibandingkan dengan daya ingatku. Dengan perasaan
kagum dan ingin tahu, digabungkan dengan rasa ngeri, berkecamuk di dalam
diriku ketika aku mulai membuka kartu-kartu arsip itu secara acak,
menyelidiki isi arsip ini. Beberapa arsip membawa sukacita dan kenangan
yang manis; yang lainnya membuat aku malu dan menyesal sedemikian hebat
sehingga aku melirik lewat bahu aku apakah ada orang lain yang melihat
arsip ini.

Arsip berjudul “Teman-Teman” ada di sebelah arsip yang bertanda
“Teman-teman yang Aku Khianati”. Judul arsip-arsip itu berkisar dari
hal-hal biasa yang membosankan sampai hal-hal yang aneh.
“Buku-buku YangAku Telah Baca”. “Dusta-dusta yang Aku Katakan”.
“Penghiburan yang Aku Berikan”. “Lelucon yang Aku Tertawakan”.
Beberapa judul ada yang sangat tepat menjelaskan kekonyolannya: “Makian Buat Saudara-saudaraku”.

Arsip lain memuat judul yang sama s eka li tak membuat aku tertawa:
“Hal-hal yang Aku Perbuat dalam Kemarahanku.”, “Gerutuanku terhadap
Orangtuaku”. Aku tak pernah berhenti dikejutkan oleh isi arsip-arsip ini.
Seringkali di sana ada lebih banyak lagi kartu arsip tentang suatu hal
daripada yang aku bayangkan. Kadang-kadang ada yang lebih sedikit dari yang
aku harapkan. Aku terpana melihat seluruh isi kehidupanku yang telah aku
jalani seperti yang dir eka m di dalam arsip ini.

Mungkinkah aku memiliki waktu untuk mengisi masing-masing arsip ini yang
berjumlah ribuan bahkan jutaan kartu? Namun setiap kartu arsip itu menegaskan kenyataan itu. Setiap kartu itu tertulis dengan tulisan tanganku sendiri. Setiap kartu itu ditanda-tangani dengan tanda tanganku sendiri.

Ketika aku menarik kartu arsip bertanda “Pertunjukan-pertunjukan TV yang Aku Tonton”, aku menyadari bahwa arsip ini semakin bertambah memuat isinya.
Kartu-kartu arsip tentang acara TV yang kutonton itu disusun dengan padat,
dan setelah dua atau tiga yard, aku tak dapat menemukan ujung arsip itu.
Aku menutupnya, merasa malu, bukan karena kualitas tontonan TV itu, tetapi
karena betapa banyaknya waktu yang telah aku habiskan di depan TV seperti
yang ditunjukkan di dalam arsip ini.

Ketika aku sampai pada arsip yang bertanda “Pikiran-Pikiran yang Ngeres”,
aku merasa merinding di sekujur tubuhku. Aku menarik arsip ini hanya satuinci, tak mau melihat seberapa banyak isinya, dan menarik sebuah kartu arsip. Aku terperangah melihat isinya yang lengkap dan persis. Aku merasa mual mengetahui bahwa ada saat di hidupku yang pernah memikirkan hal-hal kotor seperti yang dicatat di kartu itu. Aku merasa marah.

Satu pikiran menguasai otakku: Tak ada seorangpun yang boleh melihat isi kartu-kartu arsip in! Tak ada seorangpun yang boleh memasuki ruangan ini!
Aku harus menghancurkan arsip-arsip ini! Dengan mengamuk bagai orang gila
aku mengacak-acak dan melemparkan kartu-kartu arsip ini. Tak peduli berapa
banyaknya kartu arsip ini, aku harus mengosongkannya dan membakarnya. Namun
pada saat aku mengambil dan menaruhnya di suatu sisi dan menumpuknya di
lantai, aku tak dapat menghancurkan satu kartupun. Aku mulai menjadi putus
asa dan menarik sebuah kartu arsip, hanya mendapati bahwa kartu itu sekuat
baja ketika aku mencoba merobeknya. Merasa kalah dan tak berdaya, aku
mengembalikan kartu arsip itu ke tempatnya. Sambil menyandarkan kepalaku di
dinding, aku mengeluarkan keluhan panjang yang mengasihani diri sendiri.

Dan kemudian aku melihatnya. Kartu itu berjudul “Orang-orang yang Pernah Aku Bagikan Injil“. Kotak arsip ini lebih bercahaya dibandingkan kotak arsip di sekitarnya, lebih baru, dan hampir kosong isinya. Aku tarik kotak arsip ini dan sangat pendek, tidak lebih dari tiga inci panjangnya. Aku dapat menghitung jumlah kartu-kartu itu dengan jari di satu tangan. Dan kemudian mengalirlah air mataku. Aku mulai menangis. Sesenggukan begitu dalam sehingga sampai terasa sakit. Rasa sakit itu menjalar dari dalam perutku dan mengguncang seluruh tubuhku. Aku jatuh tersungkur, berlutut, dan menangis. Aku menangis karena malu, dikuasai perasaan yang memalukan karena perbuatanku. Jajaran kotak arsip ini membayang di antara air mataku. Tak ada seorangpun yang boleh melihat ruangan ini, tak seorangpun boleh.

Aku harus mengunci ruangan ini dan menyembunyikan kuncinya. Namun ketika aku menghapus air mata ini, aku melihat Dia.

Oh, jangan! Jangan Dia! Jangan di sini. Oh, yang lain boleh asalkan jangan Yesus! Aku memandang tanpa daya ketika Ia mulai membuka arsip-arsip itu dan membaca kartu-kartunya. Aku tak tahan melihat bagaimana reaksi-Nya. Dan pada saat aku memberanikan diri memandang wajah-Nya, aku melihat dukacita yang lebih dalam dari pada dukacitaku. Ia nampaknya dengan intuisi yang kuat mendapati kotak-kotak arsip yang paling buruk.

Mengapa Ia harus membaca setiap arsip ini? Akhirnya Ia berbalik dan memandangku dari seberang di ruangan itu. Ia memandangku dengan rasa iba dimata-Nya. Namun itu rasa iba, bukan rasa marah terhadapku. Aku menundukkan kepalaku, menutupi wajahku dengan tanganku, dan mulai menangis lagi. Ia berjalan mend eka t dan merangkulku. Ia seharusnya dapat mengatakan banyak hal. Namun Ia tidak berkata sepatah katapun. Ia hanya menangis bersamaku.

Kemudian Ia berdiri dan berjalan kembali ke arah dinding arsip-arsip. Mulai dari ujung yang satu di ruangan itu, Ia mengambil satu arsip dan, satu demi satu, mulai menandatangani nama-Nya di atas tanda tanganku pada masing-masing kartu arsip. “Jangan!” seruku bergegas ke arah-Nya. Apa yang dapat aku katakan hanyalah “Jangan, jangan!” ketika aku merebut kartu itudari tangan-Nya. Nama-Nya jangan sampai ada di kartu-kartu arsip itu. Namun demikian tanpa dapat kucegah, tertulis di semua kartu itu nama-Nya dengan tinta merah, begitu jelas, dan begitu hidup. Nama Yesus menutupi namaku. Kartu itu ditulisi dengan darah Yesus! Ia dengan lembut mengambil kembali kartu-kartu arsip yang aku rebut tadi. Ia tersenyum dengan sedih dan mulai menandatangani kartu-kartu itu. Aku kira aku tidak akan pernah mengerti bagaimana Ia melakukannya dengan demikian cepat, namun kemudian segera menyelesaikan kartu terakhir dan berjalan mend eka tiku. Ia menaruh tangan-Nya di pundakku dan berkata, “Sudah selesai!”

Aku bangkit berdiri, dan Ia menuntunku ke luar ruangan itu.. Tidak ada kunci di pintu ruangan itu. Masih ada kartu-kartu yang akan ditulis dalam sisa kehidupanku.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Leave a comment »

my first post

Akhirnya, setelah direncanakan selama satu semester, jadi juga ni blog gw bikin, hahaha…

Mu kenalan aja, nama gw Chandra, kuliah semester 4 teknik Informatika ITB. Interest all about IT, buku-buku, kegiatan organisasi, bisnis, musik, olah raga, menulis, banyak deh, heu heu…

Sekarang sudah mau pulang ke rumah, jadi singkat aja. Salam kenal semuanya.

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »